Bocahfathulhuda05’s Blog

Januari 18, 2009

Perkembangan Pola Pikir Manusia

Diarsipkan di bawah: filsafat — bocahfathulhuda05 @ 4:30 am

Perkembangan Pola Pikir Manusia

Munculnya ilmu pengetahuan adalah karena karakter unik yang dimiliki oleh manusia yaitu hasrat/keinginan untuk mengetahui. Manusia mempuyai rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, alam sekitar, matahari, bulan, tanaman, hewan dan semua makhluk hidup yang lainya. Tidak sampai di sini, manusia juga mempunyai hasrat untuk mengetahui tentang hakikat dirinya sendiri (antroposentris).

Rasa ingin tahu ini tidak dimiliki oleh makhluk lain, sebagaimana tanah, batu, angin, air. Bisa saja mereka dikatakan melakukan gerakan, namun gerakan itu hanya terbatas karena pengaruh ilmiah yang bersifat kekal. Bagaimana tentang binatang atau tumbuhan? Sebatang pohon menunjukkan aktivitas pertumbuhan atau gerakan, namun gerakan itu hanya untuk mempertahankan kelestaria hidupnya yang bersifat tetap. Akar bergerak mencari sumber makanan dan air, daun bergerak menuju arah cahaya. Tentu saja kecenderungan itu berlangsung sepanjang zaman. Bintang seperti ikan, burung, harimau dan binatang lain yang mempunyai tingkat eksplorasi yang lebih tinggi dari tumbuhan misalnya, mereka semua melakukan aktivitas. Namun tentu saja hanya terbatas bertujuan untuk mencari sumber makanan, menghindari sumber bahaya atau untuk melestarikan kehidupanya. Hal semacam itu bisa dikategorikan kepada pengetahuan, namun pengetahuan itu tidak akan bisa berkembang. Dengan kata lain tidak berubah dari zaman ke zaman. Rasa ingin tahu seperti itu oleh Asimov (1972) disebut dengan instink atau idle curiousity. Kemampuan ini hanya bekerja untuk tiga hal, mencari makan, melindungi diri, dan berkembang biak.

Begitu juga dengan manusia yang jelas-jelas dalam Al-Quran diamanahi sebgai khalifah di bumi ini, tentu hal ini menimbulkan konseuensi, yaitu keutamaan manusia dari makhluk yang lainya.Yang membedakanya dari makhluk lain adalah bahwa curiousity manusia selalu berkembang. Setelah menemukan tentan apa-nya, mereka juga ingin tahu tentang bagaimana dan mengapa.

Kemampuan manusia untuk mengkombinsikan daya pikirnya yang telah di dapat sebelumnya dengan pengetahuan baru ini akan membuat manusia semakin memperkaya diri dengan perbendaharaan pengetahuan. Sekedar contoh, manusia purba dahulu yang hanya bertempat tingagal di gua-gua, dengan akumulasi pengetahuanya berhasil menciptakan inovasi bagi kenyamanan dirinya. Mereka telah berhasil menciptakan rumah-rumah di atas pohon. Bahkan sekarang telah berhasil menciptakan gedung-gedung pencakar langit yang begitu menjulang. Apakah kita pernah menemukan ada seekor haimau yang hidup di dalam apartemen mewah yang indah sebagaimana manusia?

Rasa ingin tahu ini masih saja berkembang sampai sekarang, bahkan tidak hanya terbatas pada kebutuhan-kebutuhan yang bersifat praktis belaka, namun sudah sampai ke dalam tingkat hal-hal yang lebih efektif yaitu mendayagunakan seluruh alam ini, bahkan sampai kepada hal-hal yang menyangkut keindahan.

Manusia sebagai makhluk mempunyai ciri-ciri diantaranya:
1. Memiliki organ tubuh yang kompleks dan unik terutama otak
2. Adanya petukaran dzat
3. Respon terhadap rangasangan dari luar dan dalam tubuh
4. Potensi untuk berkembang biak
5. Tumbuh dan bergerak
6. Berintegrasi dengan lingkungan
7. Mati.

Maka, inilah yang menjadi alat vital bagi kelestarian peradaban manusia, yaitu mempunyai daya pikir yang lebih kuat dari daya fisik manusia sendiri. Berbeda dengan makhluk yang lain berfisik kuat, namun daya pikirnya lemah.

Dari dorongan untuk memcahkan masalah yang dihadapinya, manusia belajar untuk menciptakan solusi-solusi yang akhirnya berkumpul menjadi kumpulan pengetahuan. Hal ini tidak hanya pada alam sekitar, namun juga pada dirinya sendiri. Manusia pada intinya dapat mengamati fenomena alam sekitar yang berskala besar (makrokosmos) maupun kecil (mikrokosmos).

Berlangsungnya perkembangan pengetahuan tersebut lebih mendapatkan momentumnya karena ditunjang akan kemampuan bertukar informas idengan melakukan aktivitas komunikasi dengan sesama. Begitu juga hal ini didukung oleh sifat manusia yang ingin maju, tidak pernah puas, dan tentu sifat untuk semakin memperbaiki diri.

Mitos, penalaran, dan berbagai cara unntuk memperoleh pengetahuan
Perkembangan yang begitu kentara dari manusia adalah adanya rasa ingin tahu tentang kebutuhan yang bersifat non-fisik, tidak hanya kebutuhan yang dihasilkan dari pengamatan inderawi. Manusia selalu bertnaya pada hal yang bisa memuaskan alam pikiranya. Untuk hal itu mereka selalu mereka-reka sendiri jawaban dari segala pertanyaanya. “apakah pelangi itu?”, tentu itu adalah pertanyaan yang sangat berat bagi merke dahulu. Dengan segala kemampuanya mereka mejawab bahwa pelangi itu adalah selendang bidafdari. Dari sini mereke mendapat pengertahuan baru yaitu adanya bidadari. Contoh lain mengapa gunung ,meletus?, jawaban dari fenomena out adalah karena yang menunggu gunung itu sedang arah. Dapat lagi satu pengetahuan baru yaitu yang berkuasa. Dengan cara yang sama muncullah pengetahuan serupa yang biasa kita sebut sebgai mitaos.

Mitos sendiri meruplan batu loncatan manusia untuk mengenal alam yang non-pragmatis dari alam ini. Mitops disebabkaan oleh keterbatasanindera manusia, seperti:
1. alat penglihatan
2. alat pendengaran
3. alat pencium/pengecap
4. a;lat perasa

Kemampuan indera manusia berbeda dari satu dengan yang lainya. Ada yang berkamampuan tajam ada juga yan lemah penglihatanya, penciumanya, atau ibndera yang l;ain. Akibat keterabtasan ini maka mngkin saja akan timbul salah tafsir, informasi dan mungkin juga salah emikiran. Usaha-usah yang telah dilakukanmanusia adalah dengan menciptakan alat-alata yang dapat mambatnu dalam mengamti fenomena lam aini, sekalipun itu terbtas. Namun saja manusia tak akan berhenti hingga mereka teralah menduduk puncak kepuasan.

Jadi mitos boleh saja ipakai dalam masyarakat pada waktu out karena:
• keterbatasn pengetahuan akibat keterabtasan kemampuan indera maupun alat bantunya
• keterbtasan penalranmanusia pada masa itu
• hasrat iongin tahu sudah terpenuhi

Menurut auguste comte (1798-1857), dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, baik sebgai individu maupun keseluruhan, berlangsung dalam tiga tahap:
1. tahap teologi/fiktif, dalam tahap ini manusia berusaha untukmencari dan menemukan sebab yang pertama dantujuanakhir dari segala sesuatu. Tentu saja semua itu dihubungkan kepada kekuatan ghaib diluar kemampuan mereka sendiri. Mereka meyakini adanya kekuatan yang maha hebat yang menguasai semua fenomena alam entah itu deewa atau kekuatanghaib lainya.
2. tahap filsafat/fisik/abatrak, tahap ini hampir sama dengan tahap sebelmnya. Hanya saja mereka mendasaarkan semua itu pada kamampuan akalnya sendir,akal yang mampu untuk melakukan abstareaksi antuk menemukan hakikat sesuau .
3. tahap positif/ilmiah riil, merupakan tahap di mana manusia mapu untuk melakukan aktivitas ber[ikir secara positif atau riil. Kemampuan ini didaopatkan melalui uasaha pengamatan, percobaan, dan juga perbandingan.

Jika kita hubungkandengan mitos yang dilakukanmanusia, hal itu diperoleh karena keterbatasa pengalaman dan pemikiran, sehingga apa saja yang tidakdapat mereka temukanjawabanya, itu adalah hal yang diluar uasa mereka. Yaitu apa saja yang dikuasai oleh kekuatan ghaib di lura daya mereka. Mitos sagat berpengaruh pada waktu itu, bahkan sampai sekarang pun masih saja ada suatu komunitsa yang belum leps dari jeratan mitos.sebgaiaman yang kita etamukandalammasyrakat sekitar kita dengan menanggapi realitas dengan melalkukan penyembahan, se;amatan, tari-tarian, danlagu-laguan.

Manusia seara tereus menreus mengembangkanm pengertahuanya tidak hanya menyangkut kebutuhanhidup. Mereka mencoba untuk merumuskan mana yang baik dan man yang buruk, iandah dan jelek.

Berpikir adalah kemampuan penalaran mansuai dengan proses yang benar. Penalaran mreupakan usaha logis dananalaisis untuk menmukan jawaban atas berbgai pertanyaaan. Kemampuan ini tidak didapat melalui perasaan. Naun tentu ada pengetahua yang bersumber dari bukan penalaran, yaitu:
1. pengambilankepitusanberdasarkanperasaaan
2. intuisi,kegiatanberpikir yang tidakanalisi. Intuisi adalah pengetahuan yang timbul dari pengetahuan-p[engetahuanterdahulu, intusii bisa saja timbul menyelesaikan permasalahan tanpa proses berpikir ang sistematis.
3. wahyu, merupakan sumber pengetahuan yang paling tnggi.
4. trial and error, mencoba danmenmukan kegagalan, mencoba lagi dangagal lagi hingga menmukan cara yang benar-benra tepat.

Puncak hasil pemikiranmanusia tesebut didapat pada zaman babylonia (700-600 SM). Pendapat ereka adalah bahwa bumia itu merupakan ruangan atau selungkup. Bumi itu lantai dan langit adalahatapnya. Horoskop, merupakan hsil dari peradaban ioni. Yaitu ramalannasibmanusia berdasarkanperbintangan.

Sejalan dengan kemajuan zaman, dengan dietamukanya berbagaialat bantu uantuk mengungkap fenomena alamitu, maka menusia sedikit demi sedikit beranjak untuk mendayagunakan akal mereka.

Ada bebebrapa tokoh yang ata sumbangsih terbesar bagi alam ini adalah:
1. anaximander 610-546 SM)
2. anaximenes (560-520 SM)
3. phytagoras (500 SM)
4. emedokles (480-430 SM)
5. plato (427-347 SM)
6. aristoteles (348-322 SM)

Januari 9, 2009

Superhero India “KRRISH”

Diarsipkan di bawah: film — bocahfathulhuda05 @ 12:12 pm

Bagi yang pernah menonton ”Koi Mil Gaya”, pasti tidak asing dengan Jadoo, makhluk luar angkasa yang sempat terjebak di bumi, yang kemudian menjadi sahabat Rohit Mehra. Di situ diceritakan bahwa Rohit pada mulanya adalah seorang anak yang terbelakang secara mental akibat kecelakaan yang terjadi saat dia masih dalam kandungan. Ayah Rohit adalah seorang ilmuwan yang percaya akan keberadaan makhluk luar angkasa sehingga mendapat cemoohan dari rekan-rekannya. Ayah Rohit berhasil mengirimkan sinyal ke luar angkasa dan mendapat balasan. Pada malam kecelakaan mobil terjadi, Ayah dan ibu Rohit yang sedang mengandung melihat adanya piring terbang. Ayah Rohit meninggal dunia pada kecelakaan itu. Saat Rohit dewasa, terjadi fenomena pendaratan piring terbang. Salah satu makhluk luar angkasa bernama Jadoo tertinggal di bumi dan bersahabat dengan Rohit. Dengan kekuatan Jadoo, Rohit berubah dari seorang yang terbelakang menjadi seorang yang jenius dan kuat. Dia kemudian menikah dengan Nisha.

Nah, film Krrish ini merupakan kelanjutan dari cerita keluarga Mehra tsb. Disini diceritakan bahwa Rohit dan isterinya telah meninggal dunia. Anak lelaki mereka, Krishna diasuh oleh Ny. Mehra, ibu Rohit. Ny. Mehra mendapati bahwa cucunya mewarisi kejeniusan dari ayahnya. Sadar akan kelebihan Krishna, Ny. Mehra segera membawa Krishna menjauh dari dunia luar. Krishna dan neneknya tinggal di daerah terpencil. Disana Krishna tumbuh sebagai anak dusun yang hampir tak punya teman karena kekuatannya yang tak normal seperti anak-anak lain. Kenyataan ini membuat Krishna lebih banyak bergaul dengan alam. Singkat kata, dia tumbuh menjadi seperti Tarzan, alam tunduk padanya. Kecepatan larinya menyaingi kuda, keahlian memanjatnya melebihi kera, pokoknya seperti di cerita2 pendekar saja.

Suatu hari di sekitar tempat tinggal Krishna datang beberapa orang untuk kemping selama 10 hari. Dengan kemampuannya yg tak biasa, Krishna beberapa kali menyelamatkan Priya, salah satu peserta kemping. Terjadi kelucuan karena pada mulanya Priya & teman-temannya mengira Krishna hantu yg berkeliaran dalam hutan. Selanjutnya mereka berteman & Krishna jatuh cinta terhadap Priya.

Saat kembali ke Singapura, Priya & temannya, Honey, yang adalah jurnalis TV mendapat masalah di tempat kerjanya. Akibat cuti berlibur ke India yang melebihi waktu, mereka terancam dipecat oleh bosnya. Untuk meraih hati bos, Honey berinisiatif mendatangkan Krishna yang berkemampuan luar biasa untuk bahan liputan. Mengetahui bahwa Krishna menyukai Priya, Priya dibujuk berbohong untuk mengundang Krishna ke Singapura dalam rangka memperkenalkannya kepada ibunya.

Pada mulanya nenek Krishna menentangnya untuk pergi ke Singapura. Dari pertengkaran ini terkuaklah alasan2 nenek yang selalu melarang Krishna pergi terlalu jauh, atau melakukan hal2 luar biasa. Ny. Mehra trauma akibat kehilangan Rohit, yg ternyata meninggal karena kejeniusannya dimanfaatkan orang. Beberapa hari setelah berita kematian suaminya, Nisha yang baru melahirkan Krishna meninggal. Pada akhirnya Krishna diperbolehkan pergi demi perasaannya terhadap Priya, dengan syarat ia tak boleh memperlihatkan kelebihannya dengan alasan apapun.

Di Singapura, Krishna berusaha sedapat mungkin untuk menepati janji terhadap neneknya. Namun di luar dugaan, terjadi kebakaran saat ia berada di tempat sirkus. Beberapa anak kecil terjebak dalam kebakaran itu. Akhirnya Krishna memutuskan untuk bertindak menyelamatkan mereka dengan menyembunyikan identitasnya dibalik topeng. Saat genting menyelamatkan seorang anak yg ketakutan, ia menyebut namanya ”Krrish”. Usai insiden itu, berita TV ramai meliput kejadian tsb, mempertanyakan siapa gerangan pahlawan bertopeng bernama Krrish itu.

Konflik memuncak saat Priya melihat video rekamannya saat insiden di tempat sirkus yg menunjukkan Krrish bertopeng itu ialah Krishna. Segera ia & Honey ke tempat kerja untuk menyerahkan video itu kepada bosnya. Di sisi lain, Krishna tak sengaja mengangkat telepon dari ibu Priya sehingga tahu bahwa Priya telah membohonginya. Diundang ke Singapura untuk dikenalkan dg ibu Priya & melamarnya, itu hanya bohong. Ditambah lagi Krishna mendengar pembicaraan Priya dg Honey tentang kebohongan cintanya pada Krishna yg membawa keuntungan. Krishna segera pergi tanpa sempat mendengar bahwa cinta palsu Priya telah berubah menjadi cinta sebenarnya.
Kecewa, Krishna segera bersiap hendak pulang ke India. Di bandara, Priya menyusulnya bersama seorang pria. Krishna tak jadi pergi saat tiba-tiba orang itu mengatakan bahwa ayahnya masih hidup. Orang itu adalah Vikram Sinha, sahabat Rohit. Selama 2 tahun, Rohit bekerja pada Dr. Arya membuat komputer yg bisa melihat masa depan. Saat pekerjaannya selesai & hendak kembali ke keluarganya, Rohit menunjukkan kepada Vikram bahwa komputer itu memang bisa menunjukkan masa depan. Untuk menjalankan komputer itu, kuncinya adalah scan retina & detak jantung Rohit. Saat nanti diserahkan pada Dr. Arya, nantinya akan diubah dengan scan retina & detak jantung Dr. Arya sehingga hanya dia yg bisa menjalankan komputer. Mengejutkan, di layar ditunjukkan bahwa Rohit sedang ditodong pistol oleh Dr. Arya. Mereka segera menyadari bahaya, sehingga Rohit segera menghancurkan komputernya agar tak jatuh ke tangan Dr. Arya. Vikram mencegah Dr. Arya membunuh Rohit dg alasan meski komputer dpt diperbaiki, tak bisa dijalankan tanpa scan retina & detak jantung Rohit. Sejak itu Dr. Arya membuat berita palsu kematian Rohit. Menggunakan catatan penelitian Rohit, Dr. Arya berusaha membangun kembali komputer itu. Setelah 20 tahun, ia baru berhasil.

Pertama kali mencoba komputernya, Dr. Arya melihat bahwa ia terbunuh oleh seorang bertopeng. Tapi bukan Dr. Arya namanya kalau ia tidak segera bertindak dengan segala cara mengantisipasi hal itu. Orang bertopeng itu tak lain Krishna yang geram pada Dr. Arya yg telah menghancurkan keluarganya & bertekad membebaskan ayahnya.

Nikmatnya Belajar Ilmu Hadis

Diarsipkan di bawah: ilmu hadis — bocahfathulhuda05 @ 4:28 am

Saat pertama kali mengikuti perkuliahan ulum al-hadis, penulis tidak merasakan sesuatu yang beda di dalamnya. Pelajaran tersebut penulis anggap sebagaimana mata kuliah yang lain. Namun, setelah mendengar ceramah dari dosen pengampu ulum al-hadis yang kebetulan seorang guru besar dalam bidang Ulum al-hadis, muncul lah rasa keseriusan dalam mempelajarnya, termasuk di dalamnya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan itu.

Pertama, karena setiap mendengar nama Nabi Muhammad Saw diucapkan, seorang dianjurkan untuk membacakan sholawat agar tidak divonis sebagai orang yang bakhil. Inilah salah satu kenikmatan, karena ditilik dari segi pembacanya, bacaan shalawat yang dibacakan oleh manusia bernilai sama dengan doa. Sementara manusia yang berdoa akan senantiasa dianugerahi rahmat oleh Allah Swt.

Kedua, dengan membaca dan mempelajari hadis, maka akan merasakan nostalgia yang menyenangkan. Orang dapat melipat ruang dan waktu. dapat merasakan hidup di pelbagai tempat dan saat dimana para sahabat dengan gigih membela Islam. Mereka korbankan harta, benda dan nyawa sekaligus demi kejayaan agama yang dibawa pemimpin mereka. Disatu sisi orang dapat pula menghayati pelbagai macam perasaan jiwa, seolah-olah sedang hadir bersama mereka, ikut mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti apa yang sedang dilakukan dan dikatakan Nabi Saw. Namun, tiba-tiba ia terkejut, ketika sadar bahwa ia hanya sedang membaca suatu kitab hadis. Selain itu orang akan merasakan perjuangan muhadditsun dari masa ke masa dalam memelihara hadis.

Inilah kenikmatan tersendiri, yang barangkali sulit dicari dalam disiplin ilmu yang lain. Dahulu, sewaktu penulis masih menuntut ilmu di pesantren, tujuan mempelajari hadis dan ilmu yang terkait adalah untuk mengetahui kehidupan dan perilaku Nabi Saw untuk dapat direalisasikan ke dalam aktifitas sehari-hari. Sebagai ibadah kepada sang Pencipta, hidup seperti yang dijalani Nabi dan para pengikutnya. Namun, yang penulis rasakan sekarang, mempelajarinya tidak hanya fokus pada tujuan awal sewaktu di pesantren. Lebih dari itu, ada suatu tuntutan untuk memperjuangkan ajaran Islam dengan tetap menyelamatkan hadis Nabi dari sekelompok pihak yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Mereka sadar tidak akan mungkin dapat merubah bahkan memalsu al-Quran sebagai sumber hukum Islam pertama. Sehingga Sunnah nabi lah yang menjadi tujuan misi kejahatan mereka.

Penulis menyadari keadaan sunnah di dunia luar. banyak kalangan orientalis yang dengan sengaja menanamkan keraguan pada keabsahannya. Mereka menghabiskan usianya untuk mempelajari hadis namun ada kesalahan dalam niat awal.yaitu untuk melumpuhkan ajaran Nabi. Bahkan Ignaz Goldziher –salah seorang tokoh orientalis dari Hungaria, Jerman- menghabiskan separo lebih umurnya guna mempelajari Islam sementara tujuannya adalah untuk menciptakan keraguan dalam sunnah.

Dari fenomena itulah, dengan niat mempertahankan dan menyelamatkan Islam, mempelajari hadis dan ilmu yang terkait merupakan perbuatan mulia yang pastinya terdapat kenikmatan yang luar biasa.

Januari 8, 2009

Kesadaran di Rintik Hujan

Diarsipkan di bawah: cerpen — bocahfathulhuda05 @ 9:27 am

Oleh: M. Amsar Roedi

Langit mendung. Tak salah pasti sebentar lagi akan turun hujan. Riya pasti sudah ditunggu mas Iqbal, belum lagi Satriya yang mulai dari kemarin merengek me-mintanya membelikan robot-robot-an. Namun Mas Iqbal menasehati anak semata wayangnya untuk menunda meinan kesayangannya. Maklum, harga yang ditawarkan labih dari seratus ribu rupiah. Wah, sungguh nominal yang tidak sedikit baginya.
Byur, seketika air jatuh ke bumi dengan deras. Lengit telah membuka resletingnya. Riya meno-leh kesana-kemari mencari tempat berteduh. Tidak begitu lama ia me-nemukanteras toko yang berjubel orang-orang yang juga berlindung dari kucuran air langit itu.
Bergegas ia larikan kakinya menuju toko. Sehingga selamat dari hujan yang dapat membasahi dirinya. Aduh, ia pasti telat. Dua jam lamanya ia merengek pada Mas Iqbal untuk mengizinkanbertemu dengan Dina, teman SMUnya dahu-lu. Tentu saja suaminya khawatir kepadanya. Jarak antara kota Semarang-Salatiga tidak bisa di-katakan dekat. Apalagi bagi Riya. Sungguh mengkhawatirkan jika seorang wanita pergi sendirian lebih-lebih keluar kota. Namun pada akhirnya Mas Iqbal menga-mini permintaannya dengan cata-tan sebelum petang harus sudah sampai rumah.
Jam sudah menunjukkan angka lima. Pasti dia akan telat sampai rumah. Dia khawatir Mas Iqbal mencemaskannya atau ba-rangkali memarahinya. Marah? Ti-dak mungkin. Riya paham betul sifat suaminya itu. Pema’af dan pengertian. Tapi tetap saja Riya merasa bersalah tidak tepat waktu.
Lamunannya memecah seke-tika melihat sosok seorang laki-laki yang berada di sudut teras toko dimana banyak orang ber-teduh itu. Dia memutar memory ingatan di kepalanya.
“Mas Dwi!, sendirian mas?”. Sapanya menga-wali perca-kapan.
“Ya sendiri. Ee… Riya ya?“ Balas lelaki itu yang ternyata Dwi, teman SMU Riya dahulu.
Ingatan Riya mulai muncul dan dan teringat kenangannya bersama Dwi. Teman-temannya se-lalu menggosipkannya dengan lelaki bintang kelas itu. Hal ini bukan tanpa alasan. kedekatan merek berdualah yang membuat teman sekelasnya berse-mangat menggo-sip-kannya. Memang dulu Riya me-ngharapkan Dwi untuk menjadi pemimpin keluarga, bersama-sama mendidik anak-anak, mengarungi segala macam lika-liku kehidupan.
Namun, harapannya terbang menjauhinya ketika Dwi melan-jutkan studi keluar negeri. Belum lagi kedua orang tuanya yang selalu memaksa Riya untuk mengakhiri masa lajangnya. Diam-diam ayah dan ibunya menjodohkannya dengan seorang pemuda, putra dari teman ayahnya sendiri, Mas Iqbal. Tetapi waktu itu hatinya masih menanti kehadiran Dwi.
Hanya pemuda inilah yang mampu mengisi kekosongan hati-nya. Riya sering berkomu-nikasi dengan Dwi. Ia mencurahkan ke-gundahan yang menyelimuti piki-rannya. Namun apa yang terucap dari bibir Dwi?. Ia memberikan keleluasaan bagi Riya untuk menen-tukan sendiri jalannya. Atau mung-kin jika Riya sabar dia harus me-nunggu kuliah Dwi berakhir.
Mendengar kata-kata yang terucap itu Riya menjadi semakin bingung. Di satu sisi ia harus mempertahankan cintanya pada Dwi, namun di sisi lain ia harus menyenangkan hati kedua orang tuanya yang telah merencanakan perjodohannya dengan putra te-man ayahnya. Dengan susah payah dan berat hati akhirnya ia memu-tuskan untuk menyetujui permin-taan orang tuanya meski masih sulit melupakan kekasih pertama-nya. Tetapi sekarang ia sedikit berbahagia mendapatkan seorang suami seperti Mas Iqbal, pemuda baik, pengertian, tak suka marah. Apalagi dengan kehadiran Satriya, anak pertamanya, yang menambah keceriaan di rumahnya.
“Kok melamun… lagi mikirin apa?” suara Dwi menerbangkan lamunannya.
“Ah. Nggak apa-apa. Ngo-mong-ngomong kapan baru pulang dari Australia?”
“Dua bulan yang lalu Ya.. Sekarang kamu tinggal di mana?”
“Semarang. Ikut mas Iqbal, suamiku”
“Pasti sudah punya momo-ngan ya?”.
“Baru satu, laki-laki berumur tiga tahun
“Terus cucunya berapa?”
“ Ha… ya belum lah. Memang-nya nenek-nenek!”.
Ternyata Riya masih mene-mukan keutuhan sifat kekasihnya dulu itu. Tak ada perubahan. Lelaki tinggi semampai, gagah, kumis tipis melintang, Tutur kata yang sopan lagi lembut. Dan satu lagi sifat humornya. Masa baru menikah em-pat tahun sudah ditanya cucu, huh… dasar Dwi.
Hujan semakin lebat. De-daunan di jalanan berlayar me-ngikuti aliran air menghilang menuju dataran rendah. Segerom-bolan katak berpesta menyambut turunnya hujan dengan suaranya yang menciptakan suasana yang merdu. Jelas sekali mereka berbahagia atas limpahan Jawoh yang diturunkan Tuhan. Jawoh, Ja’a Rahmatullah begitu orang jawa meyakininya. Namun bagi Riya apakah keadaan yang menyebabkan suaminya cemas atau mungkin marah dapat dikatakan Rahmat. Ah, namun apapun yang ditentukan Tuhan kepada hamba-Nya pasti membawa kesan dan manfaat tersendiri. Hanya saja manusia selalu berpikiran negatif pada segala yang menimpanya. Tak terdengar suara dari keduanya. Masing-masing sedang asyik menikmati keindahan sekitar. Beberapa waktu kemudian terde-ngar suara anak kecil yang sering ia dengar.
“Mama …!” suara itu mem-buat Riya menolah-noleh mencari sumber suara berasal.
“Satriya…! Mama di sini Nak.”
Riya melihat anaknya keluar dari mobil bersama suaminya ber-payung hitam yang lebar. Mungkin setelah Riya mengirim pesan pendek, suaminya segera me-minjam mobil pak Dul, Ketua Masjid, untuk menyusulnya. Tanpa basa-basi Riya memperkenalkan suaminya kepada Dwi. “Ini to yang namanya Mas Iqbal, saya sudah tahu banyak tentang diri Anda le-wat Riya” puji Dwi. Terlihat senyum kecil Mas Iqbal mandengar pujian.
“ayo pulang sekarang Dik! Keburu maghrib nanti.” pinta mas Iqbal
“Ya Mas. Saya tinggal dulu ya?!” terang Riya pada Dwi
“O…ya silahkan.Hati-hati ya!”
Sebelum menuju mobil Dwi menyerahkan selembar kertas berbungkus plastik. “Datang ya?!” pintanya tanpa banyak bicara. Riya memasukkannya ke dalam tas kecil-nya dan segera menuju ke dalam mobil. Dari dalam mobil ia mening-galkan Dwi. Teringat kertas yang ia terima tadi.
Terkejut dan gembira sete-lah mengetahui isi kertas itu. Satu minggu lagi Dwi akan menikah de-ngan seorang wanita asal Magelang. Dari namanya saja Riya sudah bisa menebak bahwa wanita itulah jodoh yang tepat bagi Dwi. Tertulis dengan jelas Ani Rahmawati, S.Pd. sungguh dua pasangan sarjana yang serasi.
Riya mulai menyadari hikmah yang terjadi di sore hari itu. Jodoh pastinya sudah diatur. Seberapa kuat harapan manusia kalau tidak tercatat dalam daftar jodoh Tuhan pastilah tidak akan dapat terwujud.
Kini Riya mengetahui Rahmat dari hujan sore hari itu. Perte-muannya dengan Dwi, menya-darkan akan kondisi rumah tangga yang telah ia lalui. Suami yang sholih, anak yang sehat adalah karunia tak ternilai dari Tuhan yang tidak semua orang miliki.
Riya menutup mata kembali kertas undangan dan mema-sukkannya ke dalam tas kecilnya. Matanya bash sambil terpejam. Terus, terus, dan terus melan-tunkan syukur kepada sang Kholiq. Berkali-kali dan tiada henti. Hari mulai senja, di luar sana terdengar suara adzan membelah angkasa. Hayya Alash-Shalaah… Hayya Alash-Shalaah…

Kopeng, usai sholat Shubuh 14 Oktober 2008

Sihir itu Belum Juga Hilang

Diarsipkan di bawah: sosial — bocahfathulhuda05 @ 9:21 am

Oleh: M. Amsar Roedi*

“Sebagai salah satu kebutuhan masyarakat, televisi telah menuai kontroversi dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan robot bermata satu ini dinilai kurang memberikan nilai edukatif pada pemirsa.”

Ketika hendak memulai tulisan ini, apa yang penulis lewati seakan kembali muncul diantara berjejal memori yang menumpuk di otak saat masih remaja. Ya. Ketika masih remaja. Masa yang berapi-api. Masa yang seakan tidak ada yang dianggap salah dalam bertingkah laku dan berekspresi. Karena remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Para pakar pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berumur antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Label kanak-kanak sudah tidak patut lagi disandang. Namun, mereka masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa yang dapat menguasai dirinya.
Kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks dan penyakit ganas yang terjadi di berbagai pelosok kota dan desa di Indonesia, mengingat mereka merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara di masa depan. Oleh berbagai praktisi media bahkan para pemerhati sosial, hal ini telah banyak digubris dan dicari benang merahnya. Namun, sejauh ini usaha tersebut belum terlihat goal dan terkesan hanya sebagai bahan berita di media massa dan diskursus oleh berbagai kalangan yang belum ada realisasi khusus.
Peluang Bisnis dan Teladan Buruk
Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan masyarakat dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat. Meningkatnya kenakalan remaja saat ini merupakan salah satu dampak dari media informasi yaitu program siaran televisi yang dinilai kurang memberikan nilai edukatif bagi remaja ketimbang nilai amoralnya. Hal ini disebabkan karena industri perfilman kurang memberikan pesan-pesan moral terhadap siaran yang ditampilkan. Yang mereka pentingkan hanyalah nilai materi tanpa mempertimbangkan lebih jauh dampak yang akan muncul dari penayangan program tersebut.
Apabila kita memperhatikan berbagai program televisi seperti pada sinetron-sinetron maupun reality show bahkan iklan sekalipun, akan ditemukan banyak tayangan yang seakan mengajari khalayak untuk melakukan perbuatan yang bersifat pornografis, kekerasan, hedonisme dan sebagainya. Sehingga, karena program tersebut banyak diminati publik (khususnya remaja), jadilah peluang bisnis bagi pihak stasiun TV yaitu misalnya banyaknya iklan yang masuk. Barangkali inilah masalahnya mengapa acara tersebut semakin ramai ditayangkan dan tak kunjung mereda.
Generasi muda sekarang memang dapat menikmati hasil kecanggihan teknologi, tetapi sekaligus terpengaruh berbagai resiko buruknya. Salah satunya adalah ketidakpastian pegangan dan arahan dalam menentukan nilai dan makna hidup apabila tidak dapat mencerna segala hal yang menghampirinya.
Berbagai acara yang menayangkan tentang pergaulan bebas remaja di kota besar yang sarat akan dunia gemerlap (dugem) seakan memberikan contoh bagi mereka yang sama sekali belum mengetahuinya. Seperti tayangan dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang, cara berpakaian yang terlalu minim alias kurang bahan/sexy, goyang-goyangan yang sensual para penyanyi dangdut, kisah percintaan remaja hingga menimbulkan seks bebas, ucapan-ucapan kasar dengan memaki-maki atau menghina dan sebagainya. Inilah yang seringkali menjadi contoh tidak baik yang sering mempengaruhi remaja-remaja yang berada di kota maupun di daerah untuk mengikuti perilaku tersebut.
Melihat kondisi demikian, tayangan yang bernilai edukatif lah yang seharusnya menghiasi televisi. Selain itu dibutuhkan juga cara berpikir kritis yang tak rela membiarkan segala hal yang muncul di layar kaca berlalu begitu saja tanpa dipahami maksudnya. Oleh karenanya perlu diciptakan tayangan-tayangan yang berbobot serta penuh kearifan yang bukan hanya mengutamakan unsur entertainment tetapi juga memberikan perubahan positif yang signifikan bagi diri dan bangsa kita.
Kembali pada Diri Sendiri
Dari tayangan – tayangan tersebut ada remaja yang hanya sekedar menyaksikan, tanpa terpengaruh hal negatifnya. Namun, ada juga remaja -dengan jumlah lebih besar- yang memang gemar menyaksikan dan terpengaruh untuk mengikuti hal tersebut guna mencari sensasi di lingkungan pergaulan. Merekalah yang paling sering melakukan berbagai pelanggaran karena mudah terpengaruh acara yang disiarkan dan ingin mencari sensasi agar dapat disebut sebagai remaja yang gaul.
Terhadap remaja yang mudah terpengaruh oleh adegan-adegan tersebut, mengakibatkan mereka selalu berbuat iseng dalam bergaul atau dalam bentuk kenakalan. Ditambah lagi pergaulan dengan teman yang nakal sehingga semakin mudah pula mereka terpengaruh. Contoh kecil menonton film porno karena ketertarikan pada program televisi yang bersifat sensualitas hingga menimbulkan suatu bentuk penyimpangan dalam bergaul. Serta cara berpacaran yang sudah melewati batas, hingga menimbulkan seks bebas dikalangan remaja yang pada akhirnya banyak diantara remaja-remaja yang menikah di usia muda. Selain itu juga dapat menimbulkan pemerkosaan dan pencabulan.
Begitu juga program televisi yang menayangkan adegan kekerasan sehingga remaja yang pola pikirnya masih labil dan emosional cenderung melakukan perilaku yang kasar dan tidak sopan baik kepada teman sendiri, maupun kepada guru bahkan orang tua sekalipun. Banyak sekali dampak negatif yang dirasakan terhadap remaja. Hanya saja terkadang kebanyakan tidak terlalu merespon berbagai dampak yang muncul.
Meskipun banyak para remaja terjerumus pada hal-hal yang kurang baik namun tidak semua remaja terpengaruh oleh tayangan televisi yang menyimpang tersebut. Diantara mereka, pastinya juga ada yang mengambil sisi positif dari acara yang ditayangkan. Kenakalan remaja akibat dari program televisi yang menyimpang dapat terjadi apabila didukung pula oleh lingkungan yang memberikan kesempatan buruk terhadap pergaulan mereka.
Salut dan Harapan
Penulis angkat kedua jempol kepada pencipta dan produser film “Naga Bonar jadi 2” dan film “Laskar Pelangi”. Sepertinya jarang sekali film Indonesia yang mampu menumbuhkan sifat patriotisme dan perjuangan, seperti kedua film yang diciptakan oleh Deddy Mizwar dan Andrea Hirata ini. Nama Naga Bonar, Bonaga, Ikal, dan Lintang menjadi lekat dibenak anak muda sebagai teladan yang perlu ditiru. Kedua film itupun laris di pasaran bak nasi kucing di pinggiran jalan.
Harapan penulis, stasiun televisi dapat berjalan seiringan bukan malah mengurangi moral remaja sebagai tulang punggung bangsa. Selain itu para creator dan produser acara-acara televisi diharapkan dapat memunculkan ide-ide baru yang mengutamakan nilai edukatif. Peran orang tua dalam membimbing anak-anaknya sewaktu menyaksikan siaran televisi juga merupakan solusi yang bijak. Penulis menyadari, gencarnya kenakalan remaja bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh acara-acara televisi. Meski demikian, dengan adanya campur tangan dari pihak penyiaran televisi dan orang tua, setidaknya dapat meminimalisir kenakalan yang semakin marak dikalangan generasi muda Bangsa Indonesia.
Dari dahulu, masyarakat telah mendambakan tontonan yang dapat berperan sebagai tuntunan serta produksi serial televisi yang mampu menciptakan generasi bangsa yang tangguh. Entah kapan tayangan yang didambakan dapat menghiasi ranah penyiaran Indonesia?. Kita hanya dapat menunggu, semoga para generasi baru creator, produser dan programmer televisi dapat menciptakan tayangan-tayangan yang kreatif, edukatif, imajinatif dan inovatif.

* Penulis adalah pecinta film Indonesia

Penelitian Sanad dan Matan

Diarsipkan di bawah: ilmu hadis — bocahfathulhuda05 @ 9:15 am

Oleh: M. Amsar Roedi
I. Pendahuluan
Hadits Nabi adalah sumber ajaran Islam kedua. Dilihat dari periwayatannya, hadits berbeda dengan al-Qur’an. Untuk al-Qur’an, semua periwayatannya berlangsung secara mutawatir, sedangkan hadits, sebagian periwatannya berlangsung secara mutawatir dan sebagian lagi berlangsung secara ahad. Hadits mengenal istilah shohih, hasan, bahkan ada mardud dan dhoif dan lainya. Namun, dalam al-Qur’an tidak mengenal hal semacam itu karena periwayatan al-Qur’an adalah mutawatir yang tidak mungkin diragukan isinya. Tetapi dalam hadits kita harus cermat, siapa yang meriwayatkan, bagaimana isinya dan bagaimana kualitasnya, karena kualitas hadits akan berpengaruh pada hukum Islam.
Penelitian ini bukan bermaksud untuk meragukan keseluruhan hadits Nabi tetapi lebih kepada kehati-hatian (al-ihtiyath) dalam pengambilan dasar hukum. Inilah bukti bahwa kita benar-benar ingin mengikuti Nabi Muhammad dan menjalankan Islam sepenuhnya.
Hal semacam itulah yang menyebabkan pengkajian hadits tidak hanya menyangkut kandungan dan aplikasinya saja, tetapi juga segi sanad, matan dan periwayatannya. Di sinilah Ulama’ hadits sangat berhati-hati dalam melakukan periwayatan. Sehingga segala sesuatu yang berkenaan dengan materi hadits menjadi sangat besar manfaatnya bagi penelitian kualitas hadits.
II. Pembahasan
1. Pengertian Sanad dan Matan
Kata sanad menurut bahasa berarti sandaran; yang dapat dipegangi atau dipercayai; kaki bukit atau kaki gunung. Sedangkan menurut istilah adalah:
هو طريق المتن, اى سلسلة الرواة الذين نقلوا المتن عن مصدره الاول
“Sanad adalah jalan yang menyampaikan pada Matan, yaitu rangkaian para periwayat yang mengutip ma tan dari sumber pertamanya.”
Adapun pengertian dari Matan menurut bahasa adalah punggung jalan; atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah adalah:
هو الفاظ الحديث التى تتقوم بها معانيه
“Matan adalah ungkapan-ungkapan hadits yang menunjukkan maksud hadits tersebut”
Selain istilah sanad dan matan seperti yang telah diuraikan di atas, perlu pula diketahui istilah Rawi. Yang dimaksud Rawi adalah “ orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar atau diterima dari seseorang (gurunya). Perbuatan menyampaikan hadits tersebut dinamakan me-rawi (riwayat) kan hadits.
Sebagai contoh dari sanad, matan dan rawi bisa dilihat pada contoh hadits berikut:
روى الامام البخارى قال: حدثنا محمد بن المثنى قال: حدثنا عبد الوهاب الثقفى قال: حدثنا ايوب, عن أبى قلابة, عن أنس عن النبى ص.م. قال: ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان: ان يكون الله ورسوله أحب اليه مما سواهما, وان يحب المرء لايحبه الا الله, وان يكون ان يعود فى الكفر كما يكره ان يقذف فى النار
Dari hadits di atas, kita temukan bahwa hadits tersebut telah diriwayatkan oleh beberapa orang rawi, yakni:
1. Anas sebagai rawi pertama
2. Abi Qalabah sebagai rawi kedua
3. Ayyub sebagai rawi ketiga
4. Abdul wahhab Al-Tsaqafi sebagai rawi keempat
5. Muhammad ibn Al-Mutsanna sebagai rawi kelima
6. Imam Bukhari sebagai rawi terakhir (pentakhrij)

Adapun deretan kata-kata mulai dari :حدثنا محمد بن المثنى sampai dengan kalimat عن النبى ص.م. قال itulah yang dinamakan sanad.
Untuk contoh hadits di atas, matan haditsnya adalah rangkaian kalimat mulai dari ثلاث من كن فيه sampai ان يقذف فى النار. Dalam penulisan ilmiah, seyogyanya, selain ditulis matan hadits dimaksud, juga ditulis nama rawi terakhir (pentakhrij) dan rawi pertamanya (sanad terakhir). Umpamanya untuk penulisan hadits di atas, setelah menulis matannya, kemudian ditulis kalimat: رواه البخارى عن أنس.
2. Pengertian Penelitian Sanad dan Matan
Penelitian sanad dan matan lebih dikenal dengan istilah kritik sanad dan matan. Penelitian ini bukan berarti tidak mempercayai semua hadits Nabi, akan tetapi hal seperti ini hanya tertuju pada hadits ahad bukan hadits mutawatir. Selain itu juga merupakan kehati-hatian kaum muslimin dalam menjaga hadits Nabi di samping berkeinginan untuk mengikuti sunnah Nabi dengan sebenar-benarnya.
Fakta sejarah telah menyatakan bahwa hadits Nabi hanya diriwayatkan dengan mengandalkan bahasa lisan/hafalan dari para perawarinya selama kurun waktu yang panjang, hal ini memungkinkan terjadi kesalahan, kealpaan dan bahkan penyimpangan. Berangkat dari peristiwa ini ada sebagian kaum muslimin yang bersedia mencari, mengumpulkan dan meneliti kualitas hadits, upaya tersebut dilakukan hanya untuk menyakinkan bahwa hal itu benar-benar dari Nabi.
Sehubungan dengan hal itu, mereka akhirnya menyusun kriteria-kriteria tertentu, sebagai langkah mereka mengadakan penelitian pada sanad. Bagian-bagian penting dari sanad yang diteliti adalah nama perawi dan lambang-lambang periwayatan hadits, misalnya; sami’tu, akhbarāni, ‘an dan annă. Menambahkan hal itu, menurut Bustamin, sanad harus mempunyai ketersambungan, yaitu perawi harus berkualitas siqah (‘adil dan dhabit); dan masing-masing perawi menggunakan kata penghubung adanya pertemuan, diantaranya; sami’tu, hadatsana, hadatsani, akhbarani, qala lana, dhakarani.
Untuk meneliti sanad diperlukan pengetahuan tentang kehidupan, pekerjaan dan karakter pelbagai pribadi yang membentuk rangkaian yang bervariasi dalam mata rantai isnad yang berbeda-beda. Matan hadits yang sudah shahih belum tentu sanadnya shahih. Sebab, boleh jadi dalam sanad hadits tersebut terdapat masalah sanad, sepeti sanadnya tidak bersambung atau salah satu periwayatanya tidak siqat (‘adil dan dhabit).
3. Latar belakang penelitian Sanad dan Matan
Sebenarnya metode yang mirip dengan sanad sudah tampak sebelum Islam lahir, akan tetapi metode tersebut masih tampak samar-samar. Sebagaimana dalam penukilan syair-syair jahiliyah, metode sanad sudah digunakan. Namun formulasi metode sanad ini baru tampak jelas dalam sistem periwayatan hadits saja. Pemakaian sanad dalam literatur hadits telah digunakan oleh sahabat sejak Nabi masih hidup. Mereka yang hadir dalam majelis pengajian Nabi memberitahukan sahabat lain yang tidak hadir tentang hal yang mereka dengar.
Ulama’ sangat besar perhatiannya terhadap sanad dan matan hadits. Hal ini terbukti dengan adanya tiga alasan. Pertama, pernyataan-pernyataan ulama’ yang menyatakan bahwa sanad merupakan bagian tak terpisahkan dari agama dan pengetahuan hadits. Kedua, banyaknya karya tulis ulama’ yang berkenaan dengan sanad hadits. Ketiga, dalam praktek, apabila mereka menghadapi suatu hadits, maka sanad hadits merupakan salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus.
Pada dasarnya ada empat faktor yang mendorong ulama’ hadits mengadakan penelitian hadits yaitu dari segi sanad dan matan. Yaitu:
a) Hadits sebagai salah satu sumber ajaran Islam
Dalam sejarah, hampir seluruh ulama dan umat Islam menyepakati hadits sebagai sumber ajaran Islam. Hanya ada sekelompok kecil pada masa klasik yang menolaknya, inilah yang disebut Inkar al-sunnah. Hal itu dikarenakan mereka kurang paham tentang pelbagai hal mengenai ilmu hadits. Namun, pada masanya juga Imam Syafi’i memberikan bantahan lewat argumen-argumennya dalam kitab al-Umm. Karenanya, Imam Syafi’i kemudian diberi julukan sebagai Nashir al-Sunnah (pembela Sunnah).
Semenjak abad ketiga, yaitu setelah Imam Syafi’i memberikan argumen-argumennya, sampai abad keempat belas hijriyah, tidak ada cacatan sejarah yang menunjukkan bahwa di kalangan umat Islam terdapat pemikiran penolakan Sunnah. Namun, baru pada abad keempat belas Hijriyah, pemikiran seperti itu muncul kembali, dan kali ini dengan bentuk yang berbeda dari Inkar al-Sunnah klasik dan lebih berbahaya. Inkar al-Sunnah Modern yang muncul di Cairo, Mesir itu disebabkan adanya pengaruh pemikiran kolonialisme yang ingin melumpuhkan dunia Islam, tokoh-tokohnya mengaku sebagai mujtahid dan pembaharu, dan meskipun kepada mereka telah diterangkan urgensi Sunnah dalam Islam, mereka tetap bertahan pada pendiriannya.
Namun, kiranya Allah berkehendak lain. Apabila Imam Syafi’i berhasil melumpuhkan Inkar al-Sunnah klasik, maka munculnya para pakar Hadits kontemporer seperti Prof. Dr. Musthafa al-Siba’i, Prof. Dr. M.M. A’zami dan lain-lain telah membikin argumentasi Inkar al-Sunnah modern hancur berkeping-keping. Sehingga hadits dapat dilestarikan sampai sekarang.
b) Hadits tidak seluruhnya tertulis pada zaman Nabi
Tidak ada perselisihan bahwa Al-Qur’an telah mendapat perhatian khusus dari Rasul sehingga membuatnya terpelihara dalam dada, tertera di lembaran-lembaran, pelepah korma, dll. Tetapi Sunnah tidaklah demikian, meskipun merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Sunnah tidak mendapat perhatian khusus dalam masalah kodifikasi. Mungkin penyebabnya adalah bahwa Rasul hidup bersama sahabat selama dua puluh tiga tahun, sehingga penulisan hadits adalah sulit dilakukan dari segi masalah lokasi. Selain itu juga dikhawatirkan silapnya sebagian sabda Nabi yang singkat dan padat dengan Al-Qur’an karena alpa dan tanpa sengaja. Dengan begitu, kita mengetahui rahasia dilarangnya menulis Sunnah yang terdapat dalam hadits Muslim “Janganlah kamu menulis dariku selain Al-Qur’an, maka barang siapa menulis sesuatu hendaklah ia menghapusnya.”
Meski begitu, sudah dipastikan bahwa sebagian sahabat memiliki lembaran-lembaran tertulis yang di dalamnya mencatat sebagian apa yang mereka dengar dari Nabi, meski hanya dikenal dengan istilah shahifah dan nuskhah. Namun, ada sementara sahabat yang sudah memberikan nama tertentu bagi karyanya, seperti Abdullah Amr ibn al-Ash (7 SH-65 H). Beliau memberikan nama al-Shadiqah.
Para Ulama’ berselisih pendapat bagaimana menggabungkan hadits nabi yang melarang penulisan hadits, sedangkan menurut sejarah tidak sedikit sahabat yang menulis dan menyimpannya. Ada yang berpendapat bahwa larangan itu terhapus (mansukh). Ada pula yang berpendapat bahwa larangan menulis hanya untuk mereka yang tidak aman dari membuat kesalahan dan mencampuradukkan antara sunnah dan al-Qur’an. Sedangkan Prof. Dr. Musthafa al-Siba’i, seorang tokoh hadits yang energik dari Damaskus, Syiria, berpendapat bahwa larangan yang dimaksud adalah penulisan secara resmi sebagaimana dicatatnya al-Qur’an. Sedangkan izin penulisan adalah kelonggaran mencatat sunnah dalam keadaan dan keperluan khusus, atau kelonggaran bagi sahabat yang menulis untuk dirinya sendiri.
c) Munculnya pemalsuan Hadits
Pada zaman Nabi, belum terdapat bukti yang kuat tentang telah terjadinya pemalsuan hadits. Menurut bukti yang ada, pemalsuan hadits mulai ada pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib, walau begitu tidak menutup kemungkinan pemalsuan hadits sudah berlangsung pada masa sebelumnya.
Berdasarkan sejarah, pemalsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang Islam saja tetapi juga oleh orang-orang non-Islam. Orang-orang non-Islam membuat hadits palsu karena ingin menghancurkan Islam dari dalam. Sementara orang-orang Islam tertentu membuat hadits palsu karena didorong beberapa tujuan. Seperti Kaum Syiah yang membuat hadits palsu tentang kemuliaan sahabat Ali. Kaum pendukung Muawiyah pun tidak mau kalah, mereka membuat hadits palsu untuk memuliakan pemimpinnya.
Dalam hal ini harus dinyatakan bahwa apapun latar belakang dan tujuan pemalsuan hadits, hal seperti itu tetaplah perbuatan tercela dan menyesatkan. Bahkan Nabi sendiri mengancam neraka bagi pemalsu sabda atas nama Nabi.
d) Proses penghimpunan hadits.
Pada zaman sahabat Nabi dan Tabi’in, khususnya sebelum Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz memerintahkan untuk menghimpun hadits, kegiatan penulisan hadits telah dilakukan banyak orang. Akan tetapi hanya untuk kepentingan sendiri karena masih berlangsung perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya penulisan hadits.
Keinginan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (memerintah 99-101H) untuk menghimpun tersebut diwujudkan dalam bentuk surat perintah yang dikirim ke seluruh pejabat dan Ulama’ di pelbagai daerah pada Akhir tahun 100 H. sayang sekali sebelum selesai penghimpunan, Khalifah telah meninggal dunia. Meski demikian, kegiatan tersebut masih berjalan terus.
Sekitar pertengahan abad kedua Hijriyah, telah muncul pelbagai kitab himpunan hadits yang tidak hanya memuat matan saja tetapi juga sanad. Ada yang berkualitas shahih dan juga ada yang berkualitas tidak shahih. Ulama’ berikutnya kemudian menyusun kitab hadits yang khusus menghimpun hadits-hadits shahih.
Masih banyak kitab hadits yang disusun oleh ulama’ pada abad ke III H. tidak sedikit juga ulama’ sesudah abad III H yang menyusun hadits yang kebanyakan berupa ringkasan. Dengan demikian puncak penghimpunan hadits terjadi pada abad III H. Setelah itu, penghimpunan hadits hanya untuk melengkapi, menggabungkan dan sebagainya.
4. Tujuan Penelitian Hadits
Tujuan pokok penelitian hadits baik dari segi sanad maupun matan adalah untuk mengetahui kualitas hadits yang diteliti. Hadits yang kualitasnya tidak memenuhi syarat tidak dapat digunakan sebagai hujjah.
Pernyataan ulama’ tentang tidak perlunya penelitian lebih lanjut pada hadits mutawatir tidaklah berarti bahwa terhadap mutawatir tidak dilakukan penelitian. Penelitian hadits mutawatir tetap saja dilakukan, hanya saja tujuan penelitian bukanlah untuk mengetahui kualitas sanad dan matan, melainkan untuk mengetahui apakah benar hadits tersebut berstatus mutawatir.
Penelitian ulang terhadap hadits yang telah pernah dinilai oleh Ulama’ tetap memiliki manfaat mengingat ulama’ dahulu pun manusia yang kadang salah dan benar. Penelitian merupakan salah satu upaya untuk selain mengetahui seberapa jauh tingkat akurasi penelitian dahulu, juga untuk menghindar dari penggunaan dalil hadits yang tidak memenuhi syarat dari segi kehujjahan.
5. Kaidah-kaidah penelitian Hadits
Dalam kegiatan penelitian hadits ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti hadits, yaitu sebagai berikut:
a) Takhrijul Hadits
Langkah awal yang dilakukan para ahli Hadits dalam kegiatan penelitian hadits adalah Takhrijul hadits. Banyak sekali istilah yang dipakai ulama’ hadits tentang pengertian Takhrijul hadits. Namun, pengertian yang dimaksud dalam kegiatan penelitian hadits lebih lanjut ialah “penelusuran atau penelitian hadits pada pelbagai kitab sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad yang bersangkutan”.
Tanpa dilakukan kegiatan takhrijul hadits terlebih dahulu maka akan sulit diketahui asal-usul riwayat hadits yang akan diteliti. Hal inilah yang menjadikannya sangat penting bagi seorang peneliti hadits. Pada dasarnya ada tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan Takhrijul hadits. Yaitu:
- Untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits, sehingga mudah diketahui status dan kualitasnya.
- Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadits, sehingga dapat ditentukan sanad yang berkualitas dlaif dan yang berkualitas shahih.
- Untuk mengetahui ada atau tidak adanya Syahid dan Mutabi’ pada sanad hadits, Syahid adalah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai dan untuk sahabat Nabi. Sedangkan Mutabi’ adalah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi.
Dalam buku Cara Praktis Mencari Hadits dikemukakan bahwa metode takhrijul hadits ada dua macam, yaitu:
 Metode Takhrijul Hadits bil Lafz
Metode ini adalah penelusuran hadits melalui lafadz. Kitab kamus yang agak lengkap untuk kepentingan ini adalah adalah kitab susunan Dr.A.J. Wensinck dkk. Yang diterjemahkan ke bahasa arab dengan judul المعجم المفهرس لالفاظ الحديث النبوي
 Metode Takhrijul Hadits bil maudlu’
Metode ini adalah penelusuran hadits melalui topik masalah. Kitab kamus untuk kepentingan ini adalah مفتاح كنوز السنة yang juga susunan dari Dr.A.J. Wensinck dkk.
b) Penelitian Sanad Hadits
Setelah melakukan takhrijul hadits, maka seluruh sanad hadits dicatat dan dihimpun untuk dilakukan penelitian dengan urutan sebagai berikut:
1. Al-i’tibar
Al-I’tibar yaitu menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadits tertentu, yang hadits itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian dari sanad hadits di maksud. Tujuan diadakannya Al-I’tibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadits seluruhnya dilihat dari ada atau tidaknya periwayatan yang berstatus mutabi’ (periwayatan yang berstatus pendukung yang bukan sahabat Nabi), dan syahid (periwayatan yang berstatus sebagai dan untuk Nabi).
Untuk mempermudah proses al-i’tibar, diperlukan pembuatan skema seluruh sanad hadits yang diteliti. Garis-garis sanad harus jelas, seperti halnya nama periwayat agar tidak mengalami kesulitan dalam penelitian. Sebagai contoh hadits yang berbunyi من رأى منكم منكرا. Berikut ini dikemukakan riwayat hadits tersebut yang mukharrijnya Muslim:
حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة, حدثنا وكيع عن سفيان.ح. و حدثنا محمد المثنى. حدثنا محمد بن جعفر. حدثنا شعبة, كلاهما عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب وهذا حديث أبى بكر. قال: أول من بدأ بالخطبة يوم العيد قبل الصلاة مروان. فقام اليه رجل. فقال: الصلاة قبل الخطبة. فقال: قد ترك ما هنالك. فقال أبو سعيد: أما هذا فقد قضى ما عليه. سمعت رسول الله ص.م. يقول: من رأى منكم منكرا فليغير بيده فان لم يستطع فبلسانه, فان لم يستطع فبقلبه, وذالك أضعف الايمان. (أخرجه مسلم)
Marwan bin Hakam dalam riwayat di atas bukanlah periwayat hadits. Dia disebut namanya karena adanya kasus yang dia lakukan yaitu mendahulukan khutbah dalam shalat hari raya dengan alasan tahun sebelumnya bila shalat jamaah selesai dan diikuti khutbah, ternyata banyak anggota jamaah yang meninggalkan tempat shalat. Tindakan Marwan ditegur oleh salah seorang yang hadir. Di tempat itu hadir pula Abu Said al-Khudri yang membenarkan sikap orang yang menegur. Abu Said menilai tindakan Marwan itu merupakan perbuatan munkar. Karenanya, ia menyampaikan hadits Nabi di atas yang berisi perintah untuk mengatasi kemungkaran. Dengan demikian, kasus Marwan bukanlah sabab al-wurud dari sabda Nabi tersebut karena kasus itu tidak termasuk matan.
Dalam mengemukakan riwayat, Imam Muslim menyandarkan riwayatnya kepada dua periwayat, yakni Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin al-Mutsanna. Keduanya beliau sandari sebagai sanad pertama. Dengan demikian, sanad terakhir adalah Abu Said al-Khudri.
Huruf ح yang terletak antara nama Sufyan dan kata wa haddasana adalah singkatan dari kata at-tahwil min isnad ila isnad, artinya: perpindahan dari sanad yang satu ke sanad yang lain. Dengan demikian sanad Muslim dalam riwayat hadits di atas ada dua macam.
2. Meneliti pribadi periwayat dan metode periwayatannya
Dalam meneliti pribadi periwayat, Ulama’ hadits sepakat bahwa ada dua hal yang harus diteliti untuk dapat diketahui riwayat hadits bisa dijadikan hujjah atau tidak. Yaitu keadilan dan kedhabitannya. Jika kedua sifat itu telah dimiliki maka periwayat dinyatakan bersifat Siqah.
a. adil (kualitas pribadi periwayat)
Dalam memberikan pengertian istilah adil, ulama’ berbeda pendapat. Dari perbedaan itu dapat dihimpun empat butir kriteria untuk seorang yang adil. Yaitu: (1) beragama Islam; (2) mukallaf; (3) melaksanakan ketentuan agama; (4) memelihara muru’ah.
Pada kriteria melaksanakan ketentuan agama, Allah memerintahkan dalam Surat al-Hujurat: 6 agar berita yang berasal dari orang fasiq diteliti kebenarannya. Maka berita dari orang yang fasiq yang berkenaan dengan sumber ajaran Islam, dalam hal ini hadits Nabi, harus ditolak. Karena orang yang tidak melaksanakan ketentuan agama tidak merasa berat membuat berita bohong.
Pada kriteria keempat, Ibnu Qudamah mengartikan muru’ah dengan rasa malu yang merupakan salah satu tata nilai yang berlaku di masyarakat, berarti orang yang mengabaikan muru’ah akan mengakibatkan dia tidak dihargai oleh masyarakat. Sehingga cenderung melakukan perbuatan kompensasi untuk mencari perhatian masyarakat salah satunya adalah menyampaikan berita bohong.
b. dhabith (kapasitas intelektual)
Penerimaan hadits pada masa Nabi ialah melalui cara al-sama’. Sedangkan orang yang menyampaikan hadits harus hafal terlebih dahulu dan mampu menyampaikannya kepada orang lain di samping harus memahami isi hadits tersebut. Dengan demikian, kapasitas intelektual seorang periwayat sangat ditekankan dalam periwayatan hadits.
Dalam metode periwayatan, ada beragam cara yang dipakai, diantaranya:
a. سمعت d. أخبرنا
b. حدثنا e. قال لنا
c. حدثنى f. ذكرنا
Bobot kualitas kata-kata ini tidak disepakati oleh ulama’. Menurut al-Khatib al-Baghdadiy (w. 463 H), kata yang tertinggi adalah سمعت kemudian حدثنا dan حدثنى . Alasannya kata سمعت menunjukkan kepastian periwayat mendengar langsung hadits. Sedangkan حدثنا dan حدثنى masih bersifat umum; ada kemungkinan periwayat tidak mendengar langsung.
Adapun kata حدثنى lebih tinggi daripada kata حدثنا dan أخبرنا. Karena حدثنى mengandung unsur kesengajaan guru menyampaikan hadits kepada penerima riwayat. Sedang dua kata lainnya tidak demikian.
Kegiatan penelitian hadits masih belum dinyatakan selesai bila penelitian tentang kemungkinan adanya syudzudz dan illah belum dilaksanakan dengan cermat.
1. meneliti syudzudz
Menurut Imam Syafi’i, suatu sanad sangat memungkinkan mengandung syudzudz bila sanad yang diteliti lebih dari satu buah. Hadits yang memiliki satu sanad saja, tidak dikenal adanya syudzudz. Salah satu langkahnya adalah membandingkan (Muqaranah) semua sanad yang ada untuk matan yang topik pembahasannya sama atau memiliki segi kesamaan.
2. meneliti illah
Illah yang disebutkan dalam salah satu unsur kaedah kesahihan sanad hadits ialah illah yang yang untuk mengetahuinya diperlukan penelitian yang lebih cermat sebab hadits yang bersangkutan tampak sanadnya berkualitas shahih. Cara menelitinya antara lain dengan membanding-bandingkan semua sanad yang ada untuk matan yang semakna.
Al-Khatib al-Baghdadiy memberikan langkah-langkah yang perlu ditempuh ialah: (1) seluruh sanad yang semakna dihimpun dan diteliti, bila hadits yang bersangkutan memang memiliki mutabi’ataupun syahid; (2) seluruh periwayat dalam pelbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang berlaku. Sesudah itu, kemudian sanad dibandingkan dengan sanad lain. Maka akan ditemukan, apakah sanad hadits tersebut mengandung illah ataukah tidak.
3. Menyimpulkan hasil penelitian sanad
Isi dari hadits harus berisi natijah (konklusi), kemudian dalam natijah harus disertai argumen yang jelas. Semua argumen dapat dikemukakan sebelum ataupun sesudah rumusan natijah dikemukakan.
Isi natijah untuk hadits yang dilihat dari segi jumlah periwayatnya mungkin berupa pernyataan bahwa hadits yang bersangkutan berstatus mutawatir dan bila tidak demikian, maka hadits tersebut berstatus ahad. Untuk hasil penelitian hadits ahad, maka natijahnya mungkin berisi pernyataan bahwa hadits yang bersangkutan berkualitas shahih, atau hasan, atau dha’if.
c) Penelitian Matan Hadits
Kemudian untuk meneliti matan hadits juga harus melalui beberapa kegiatan diantaranya:
1. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya
Sebelum meneliti matan terlebih dahulu harus meneliti sanad. Ini tidak berarti bahwa sanad lebih penting daripada matan. Bagi ulama’ hadits keduanya sama-sama penting, hanya saja penelitian matan mempunyai arti apabila sanad hadits sudah jelas memenuhi syarat. Di samping itu setiap matan harus memiliki sanad, karena tanpa sanad, maka suatu matan tidak dapat dinyatakan sebagai sabda Nabi.
Menurut ulama’ hadits, suatu hadits barulah dinyatakan berkualitas sahih apabila sanad dan matan hadits sama-sama shahih. Dengan demikian, hadits yang sanadnya sahih dan matannya tidak shahih atau sebaliknya, tidak dinyatakan sebagai hadits shahih.
2. Meneliti lafadz matan yang semakna
Salah satu sebab terjadinya perbedaan lafadz pada matan hadits yang semakna ialah karena dalam periwayat hadits telah terjadi periwayatan secara makna (ar-riwayah bil-ma’na). Menurut ulama’ hadits, perbedaan lafadz yang tidak mengakibatkan perbedaan makna, asalkan sanadnya sama-sama shahih, maka hal itu tetap dapat ditoleransi. Misalnya, hadits tentang niat yang berbeda-beda redaksi matannya.
3. Meneliti kandungan matan
Kandungan dalam beberapa matan terkadang sejalan dan juga ada yang bertentangan. Pada matan yang sejalan, maka matan itu perlu diteliti sanad-nya. Jika memenuhi syarat, maka kegiatan muqaranah kandungan matan dilakukan. Apabila kandungan matan yang diperbandingan ternyata sama, maka dapatlah dikatakan bahwa kegiatan penelitian matan berakhir.
Apabila kandungan matan ternyata bertentangan dengan matan yang kuat, maka penelitian harus dilanjutkan. Ulama’ berbeda pendapat dalam penyelesaiannya. Namun, dilihat dari kemungkinan masalah yang diselesaikan, empat tahap yang diusung Ibnu Hajar al-Asqalani dan lain-lain tampaknya dipandang lebih akomodatif. Yaitu, (1) at-taufiq (al-jam’u atau al-talfiq); (2) an-nasikh wal-mansukh; (3) at-tarjih; dan (4) at-tauqif (menunggu sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menyelesaikannya atau menjernihkannya).
4. Menyimpulkan hasil penelitian matan
Setelah semua langkah telah dilakukan, maka langkah terakhir adalah menyimpulkan hasil penelitian matan.
Apabila dalam penelitian matan ternyata shahih dan sanadnya juga shahih, maka natijah disebutkan bahwa hadits tersebut adalah shahih. Apabila matan dan sanadnya berkualitas dhaif, maka natijah disebutkan bahwa hadits tersebut adalah dhaif Sedangkan kalau seandainya matan dan sanadnya berbeda kualitasnya, maka perbedaan itu harus dijelaskan.
6. Ilmu-Ilmu bantu penelitian Hadits
Dalam penelitian sebuah hadits tidak hanya didasarkan pada argumen saja, tetapi ada beberapa ilmu yang dapat membantu dalam mencapai kesuksesan hadits. Ilmu yang berkenaan dengan sanad adalah sebagai berikut:
a. Ilmu Rijalul Hadits
Yaitu ilmu yang secara mengelupas tentang tokoh/orang yang membawa hadits, semenjak dari Nabi sampai dengan periwayat terakhir (penulis hadits). Pembahasan yang terpenting adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut meliputi masa kelahiran dan wafat mereka, negeri asal, negeri mana saja yang mereka singgahi dalam jangka waktu lama, kepada siapa saja mereka menerima hadits, dan kepada siapa menyampaikannya.
Ada beberapa istilah dalam penyebutan ilmu ini. Ada yang menyebutnya ilmu tarikh, ada yang menyebut tarikh ar-ruwat dan ada pula yang menyebut ilmu tarikh ar-ruwat.
b. Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil
Yaitu ilmu yang membahas keadaan para rawi dari diterima atau ditolaknya periwayatan mereka. Kritik yang dikemukakan oleh ulama’ hadits bukan hanya hal-hal yang terpuji saja, tetapi juga berkenaan dengan hal-hal yang tercela. Hal semacam ini bukan untuk menjelekkan mereka, melainkan untuk dijadikan pertimbangan dalam hubungannya dengan dapat diterima atau tidak hadits yang mereka sampaikan.
Sedang ilmu yang berkenaan dengan matan adalah sebagai berikut:
a. Ilmu Gharibul Hadits
Dalam memahami makna matan hadits, terkadang kita menjumpai susunan kalimat yang sulit dipaham. Hal ini bukan disebabkan tidak teraturnya kalimat dan tidak fasihnya. Akan tetapi lebih merupakan keindahan seni sastra.
Terdorong alasan tersebut di atas, para ulama’ hadits menyusun suatu ilmu tersendiri yang disebut dengan ilmu gharibul hadits.
Ibnu Shalah menta’rif ilmu gharibul Hadits sebagi berikut: “Ilmu pengetahuan untuk mengetahui lafadz-lafadz dalam matan hadits yang sulit lagi sukar dipaham, karena jarang sekali digunakan”. Seperti lafadz الجار أحق بسبقه yang diartikan “Tetangga itu lebih berhak untuk didekati”, dengan lafadz Sabqu diartikan al-laziq (dekat).
b. Ilmu Mukhtalif al-Hadits
Yang disebut ilmu Mukhtalif al-Hadits adalah “ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan, untuk menghilangkan perlawanannya itu atau mengkompromikan keduanya, sebagaimana membahas hadits yang sukar dipahami atau diambil isinya, untuk mengahilangkan kesukarannya dan menjelaskan hakikatnya”.
Usaha untuk mengumpulkan dua hadits yang berlawanan maknanya itu disebut talfiq al-Hadits. Jika dua hadits itu dapat ditalfiqkan maknanya, maka tidak dibenarkan hanya diamalkan salah satu, sedang yang lain ditinggalkan. Cara mentalfiqkan ada kalanya dengan mentakhshishkan hadits yang umum, mentaqyidkan hadits yang mutlaq dan adakalanya memilih sanadnya yang lebih kuat.
c. Ilmu Nasikh Hadits wa al-Mansukh
Dalam penelitian matan, seorang peneliti akan menemukan hadits-hadits yang bertentangan. Solusi yang dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan membahasnya melalui ilmu Nasikh Hadits wa al-Mansukh. Pengertian dari ilmu ini adalah “ilmu yang membahas hadits-hadits yang saling berlawanan maknanya yang tidak mungkin dapat dikompromikan dari segi hukum yang terdapat pada sebagiannya, karena ia sebagai nasikh terhadap hukum yang lain, karena ia sebagai mansukh. Karenanya, hadits yang terakhir adalah sebagai nasikh”.
Jalan untuk mengetahui nasakh adalah, (1) penjelasan dari nash syar’i, (2) penjelasan dari shahabat, (3) dengan mengetahui tarikh keluarnya hadits.
d. Ilmu Asbab al-Wurud
Mengetahui sebab-sebab lahirnya hadits adalah bagian sangat penting dalam mempelajari hadits. Karena hal ini dapat memahami makna hadits secara sempurna.
Yang dimaksud ilmu asbab al-wurud ialah “ilmu pengetahuan yang menerangkan sebab lahirnya hadits.”
Dalam mempelajari ilmu ini kita dapat mengambil beberapa faedah. Antara lain: (1) memahami dan menafsirkan hadits, (2) mengambil kandungan isi dari nash yang dilukiskan secara umum, (3) mengetahui hikmah-hikmah ketetapan syariat, (4) mentakhsis hukum.
e. Ilmu Ilal al-Hadits
Dalam studi hadits istilah illat dapat diartikan sebagai suatu sebab yang tersembunyi yang dapat membuat cacat suatu hadits yang nampaknya tiada bercacat. Demikian menurut Muhadditsun.
Dengan mengetahui arti illat, maka dapatlah ditetapkan ta’rif ilmu illal al-Hadits sebagai berikut:
“Ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar-samar lagi tersembunyi dari segi membuat kecacatan suatu hadits. Seperti memutthasilkan (menganggap bersambung) sanad atau hadits yang sebenarnya sanad itu munqathi’ (terputus), merafa’kan (mengangkat sampai pada Nabi) berita yang mauquf (yang berakhir pada shahabat), menyisipkan suatu hadits pada hadits yang lain, meruwetkan sanad dengan matannya atau lain sebagainya.”
Dengan demikian, dapat diketahui betapa sulitnya meneliti apakah sanad suatu hadits itu muttashil, berita yang disampaikan oleh sahabat itu benar-benar dari Nabi, jika saja seseorang tidak mempunyai pengetahuan yang banyak tentang biografi para perawi. Apabila dalam suatu hadits ditemukan illat, menjadilah hadits tersebut hadits dlaif. Hal demikian menyebabkan tidak dapat menjadi hujjah dalam menetapkan hukum.
III. Kesimpulan
Kritik hadits (Naqd al-Hadits) atau dengan sebutan penelitian hadits adalah upaya untuk menseleksi kehadiran hadits, memberikan penilaian dan membuktikan keautentikan (keshahihan) sebuah hadits. Upaya ini juga berarti mendudukan hadits sebagai hal yang sangat penting dalam sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran, sebagai bukti kehati-hatian kita. Selain yang telah tersebut di atas, upaya ini juga dilakukan untuk memahami hadits agar dapat mengaplikasikan isi dari hadits tesebut dengan tepat. Jadi, kita akan lebih yakin akan kebenaran hadits karena adanya proses penelitian yang ketat dari para sahabat dan para ulama’ hadits dan metode pemahaman yang benar.
Upaya ini mempunyai metode tersendiri dan juga ilmu-ilmu yang dapat membantu dalam proses penelitiannya. Ilmu yang berkenaan dengan sanad antara lain Ilmu Rijalul Hadits dan Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, sedang untuk meneliti matan dibutuhkan Ilmu Gharibul Hadits, Ilmu Mukhtalif al-Hadits, Ilmu Nasikh Hadits wa al-Mansukh, Ilmu Asbab al-Wurud, Ilmu Ilal al-Hadits.
Dengan adanya ilmu-ilmu tersebut kegiatan penelitian akan lebih mudah dan terbantu. Sehingga pada akhirnya kita akan mendapat hasil yang memuaskan yaitu hadits yang berkualitas shahih
IV. Penutup
Demikian makalah ini kami sampaikan. Bukan sikap yang bijak apabila kami merasa sempurna tanpa kesalahan sedikit pun dalam makalah yang telah terselesaikan ini. Akhirnya hanya kepada Allah jualah kami berharap mudah–mudahan pemaparan yang jauh dari kata sempurna ini dapat menambah pengetahuan kita dalam memahami penelitian hadits dari segi sanad dan matannya, sehingga dapat mengaplikasikan hadits yang benar-benar shahih untuk amal ibadah kepada Tuhan Sang Pencipta.
Akhirnya tiada gading yang tak retak, untuk itu kritik dan saran yang membangun selalu kami harapkan dari semua pihak. Sekian.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Khatib, Muhammad Ajjaj, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu, Beirut: Daar al-Fikr, 1989.
Al-Siba’i, Musthafa, Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam, Terj. Nurcholish Majid dari “al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami” Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992.
Bustamin, Metodologi Kritik Hadits, Jakarta: Raja Grafindo, 2004.
Fudhaili, Ahmad, Perempuan di Lembaran Suci: Kritik atas Hadits-Hadits Sahih, Cet. I, Yogyakarta: Pilar Media, 2001.
Ismail, M. Syuhudi, Kaidah Kesahihan Sanad Hadits, Jakarta: PT Karya Unipress, 1995.
, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: PT Karya Unipress, 1992.
, Pengantar Ilmu Hadits, Bandung: Angkasa, 1991.
Rahman, Fatchur, Ikhtishar Musthalah Hadits, Bandung: PT Al-Ma’arif, 1995, Cet: VIII.
Yaqub, Ali Mustafa, Kritik Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004.
Zuhri, Muh., Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 2003.

Hello world!

Diarsipkan di bawah: film — bocahfathulhuda05 @ 8:51 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog pada WordPress.com.